Review Buku “kok


JIKA AKU TIDAK BERJODOH DENGANMU BAGAIMANA?
.
.
.
Aku tak pernah tahu takdir Tuhan akan bagaimana
Jika kamu memang sama mencintaiku
Aku yakin kamu ingin menua denganku
Dan kita sama-sama tidak ingin berpisah
Walau saling mengikhlaskan
Walau mencoba tak ada harapan
Walau aku dan kamu saling berjauhan
Walau kita galau dalam kenyataan
Kini aku masih menemukan bayangan 
Dan rasa yang sama
Hanya satu pertanyaan, untuk kita yang terkadang menjadi menakutkan
Jika aku tidak berjodoh denganmu bagaimana?
Sahabat, lebih baik ikhlaskan dari sekarang ya, sebelum semuanya terasa menyakitkan, persiapkan menjemput jodoh dengan buku “Jangan Jatuh Cinta Tapi Bangun Cinta” yang siap menemani masa penantian sahabat ^^
Inspirasi buku “Jangan Jatuh Cinta Tapi Bangun Cinta”
Setia Furqon Kholid

Iklan

Hikmah ke-10


Ialah xylem, pembuluh transport yang tersusun atas sel-sel mati yang justru dengan matinya dapat menghantarkan air & unsur hara menuju tempat yang seharusnya (bagian2 tanaman yang membutuhkan)
Begitupun dengan amalan kita, jika ingin sampai kepada Allah, maka amalan tersebut harus di-mati-kan dari sifat ke-aku-an. Sebab bukanlah karena hebatnya kita sebuah amalan itu dapat dikerjakan, namun karena Allah memudahkan kita untuk mengerjakannya.
Semoga dengan begitu amalan kita dapat diterima & dijauhkan dari rasa kecewa…

Kau tahu apa yang menyebabkan kecewa? Ialah Harapan. Terhadap apa & bagaimana cara kita berharap yang masih sering kurang tepat.

Maka,
Tanamlah dalam-dalam semua keinginanmu terhadap selain Allah. Semoga jalan ma’rifat kian mudah untuk dilalui.

#kajian selasa sore bersama ust.Ali Efendi

Motivasi


Pagi-pagi dapat kiriman begini,, beneran buat adem

Selamat bersabtu menggebu…✊✊✊

Bersyukurlah kpd Allah dgn penuh kerendahan hati, Insyaallah dgn bersyukur, Allah akan tambahkan lg nikmat.

Pesan umi..jika malas paksakan diri.jika lupa bersyukurlah krn akan disibukkan dgn mengulang-ulang,bukan disibukkan dgn menggunjing.jika lelah bersyukurlah krn dilelahkan dalam ketaatan. sampai ia menjadi cinta.

Uhibbuki fillah

Hikmah ke-8


Hikmah kali ini masih menyoal, “semua amalan kita tidak akan sedikitpun mempengaruhi kebijakan Allah (ini soal tauhiid bukan ikhtiar)”


“Ketika dibukakan bagimu jalan ma’rifat, maka jangan kau hiraukan soal amalmu, walaupun sedikit amalanmu, supaya Ia mengenalkan diri kepadamu. Tidakkah kau ketahui ma’rifat itu buah/kehendakNya terhadapmu. Sedangkan amalmu adalah hadiahmu kepadaNya. Diamanakah amal itu dibandingkan pemberianNya kepadamu?”

Analoginya, “Ketika kita diberikan segenap hadiah dari seorang raja, kemudian sebagian kecil dari hadiah tersebut kita hadiahkan lagi kepada raja yang memberikan hadiah tadi, lalu kita anggap hadiah tersebut adalah pemberian kita & kita ingin dianggap mulia karena telah memberi”

Kira-kira bagaimana perasaan raja tersebut ketika telah memberi hadiah,lalu kita menghadiahkan lagi kepadanya sedikit dari hadiah yang telah ia berikan?
Seperti itulah kondisi kita, ketika kita beramal lalu merasa mulia dengan amalan tersebut. Padahal segala sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah dari Allah, pun saat kita melakukan ibadah itu karena Allah yang telah menggerakkan.

Ma’rifat adalah Mengenal Allah. Ia merupakan puncak keagungan seorang hamba & ujung dari ilmu tauhiid.

Oleh karena itu, para sahabat tidak pernah menyepelekan amal sekecil apa pun. Sebab tingkat pahala yang diberikan Allah bukan terletak pada bentuk amal, namun seberapa ikhlas (ikhlasnya dari ikhlas) kita dalam melakukan amalan tersebut.
Ikhlasnya dari ikhlas maksudnya, benar setiap orang berbuat karena Allah tapi kadarnya bisa berbeda. Ada yang berbuat karena Allah, jauh dari riya’ dan tidak terlihat oleh manusia, tapi kemudian merasa mulia dengan amalan tersebut.
Misalnya, seseorang yang melakukan sholat tahajjud dimalam hari karena Allah tanpa dilihat oleh seorang pun, sudah baik amalnya, tapi kemudian hadir rasa bangga ke-aku-an, menganggap diri mulia dengan amalan tersebut, merasa diri lebih baik dari orang lain yang hanya semalaman.

Kita juga dapat mengambil hikmah dari kisahnya imam Al-Ghozali,
Imam Al-Ghozali pernah bermimpi masuk ke dalam surga, kemudian malaikat menghadangnya dan bertanya, “Apa yang membuatmu masuk surga?” Imam Al-Ghozali menjawab, “mungkin karena Qiyamul lail”. “Tidak” bantah malaikat. Imam Al-Ghozali menjawab lagi, “mungkin karena kitab karanganku”. “Bukan karena itu, kamu masuk surga karena pernah menolong lalat yang ingin minum, lalu akhirnya lalat tersebut bisa terbang kembalu” lanjut malaikat.

Tuh kan, amalan yang dipandang kecil oleh manusia, bisa jadi bernilai besar disisi Allah. Pun sebaliknya, amal yang besar dalam pandangan manusia, masih berkemungkinan tidak berarti apa-apa disisi Allah, karena adanya ego ke-aku-an, ketika merasa amal menyebabkan kemuliaan disisi Allah. Na’udzubillah…

Cara mendapatkan ma’rifat ada 2, yaitu:
1. Dengan ilmu & amal, jalan ini lebih sulit dan sangat rentan dengan munculnya penyakit hati,berbangga diri.
2. Dengan ujian, jalan ini lebih mudah daripada jalan yang pertama. Sebab ma’rifat masalah hati, sedang kemenonjolan itu seringnya membiaskan niat.

Dapat dikatakan, indikator amal kita baik itu ketika kita mampu menghilangkan rasa ke-aku-an dari amalan tersebut. Tidak merasa beramal karena kemampuan diri kita, namun karena Allah telah memampukan kita.

Hikmah ke-7


“Janganlah meragukan kamu karena tiada tertepati janji itu walau sudah jelas waktunya. Karena yang demikian itu merusak di dalam bashirohmu dan memadamkan siir (cahaya hati) mu.”

Jika pada pembahasan sebelumnya kita telah memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi bukanlah disebabkan oleh ikhtiar kita, pun kali ini apa yang terjadi jangan pernah menganggap karena kebaikan batiniah kita, keshalihan kita, ibadah kita.

Kebaikan kita, keshalihan kita, kesungguh-sungguhan kita dalam berdo’apun tidak menjadikan sebab datangnya kebaikan kepada diri kita.
Dan jangan dikira kebaikan kita itu mendatangkan keuntungan bagi Allah.

Lalu jika semua yang terjadi terhadap diri kita itu murni atas kehendak Allah,apakah kita tidak perlu lagi berikhtiar, tidak perlu lagi untuk berdo’a?

Tentu saja tidak. Takdir Allah & do’a itu adalah dua hal yang berbeda.
Do’a jangan diartikan sekedar permintaan kita kepada Allah, seperti permintaannya aladin kepada jin.
Do’a harus dimaknai lebih luas, bahwa do’a bukan sekedar meminta, namun sebagai bukti bahwa kita adalah hamba Allah yang lemah yang sangat membutuhkan Allah yang maha tinggi untuk dimintai tolongNya.

Jika berdo’a itu kita anggap cara meminta sesuatu kepada Allah, bayangkan berapa banyak kita harus berdo’a setiap hari. Kita harus berdo’a meminta berala ml air liur yang harus kita gunakan untuk mencerna makanan, berapa banyak oksigen yang kita butuhkan untuk bernafas, dll.
Maka do’a jangan dimaknai sekedar cara kita meminta kepada Allah,namun lebih dari itu do’a adalah wujud kesadaran kita sebagai seorang hamba yang lemah.

Kita harus selalu yakin bahwa janji Allah itu pasti. Pun ketika kita berdo’a Allah juga pasti mengabulkan. Akan tetapi dikabulkannya itu menurut pilihan Allah, menurut waktu yang ditetapkan Allah.

Dalam hal ini kita dapat belajar dari shiroh Rasulullah:
Rasulullah pernah bermimpi bahwa beliau sedang melakukan ibadah haji bersama para sahabat. Maka rasulullah dan para sahabat ingin mewujudkan mimpi itu. Dalam perjalanan menuju mekkah, ternyata rombongan rasulullah dihadang oleh kelompok kafir, dalam peristiwa ini terjadi 2 pendapat dikalangan sahabat, ada yang berpendapat bahwa sebaiknya tetap memunaikan ibadah haji, namun Rasulullah melihat dengan bashirohnya bahwa benar janji Allah dalam hal menunaikan ibadah haji ini, tapi waktunya belum tentu saat ini juga. Singkat cerita dari peristiwa ini lahir perjanjian hudaibiyah yang dengan perjanjian tersebut menyebabkan para kaum muslimin dapat menunaikan ibadah haji di tahun-tahun berikutnya,bahkan banyak dari penduduk Mekkah yang masuk Islam setelahnya.

Kembali ke bahasan bashiroh. Bashiroh adalah komponen terpenting hati yang menjadikan seseorang dapat melihat dengan fokus. Mmm dalam hal ini misalnya saat kita membaca Al-Qur’an di salah satu ayat, kita fokus pada satu ayat yang kita baca,tapi bukankah sebenarnya mata kita mampu melihat sehalaman. Nah fungsi bashiroh itu mengatur satu fokus dari banyak yang dapat kita lihat.

Sedangkan Siir, adalah mata hati yang dimiliki oleh orang yang telah sangat sangat sangat dekat dengan Allah.
Tidak ada ketakutan & kesedihan dalam hatinya, sebab semua takdir baik menurut Allah, sebab semua makhluk di dalam genggamanNya.

Selanjutnya,tetaplah yakin dengan janji Allah. Tetap berikhtiar semaksimal yang kita bisa. Tetap beribadah mendekatkan diri kepada Allah.
Menyoal terkabulkannya keinginan kita atau tidak itu menjadi hak nya Allah.
Maka tugas kita adalah senantiasa mengevaluasi diri.

^ketika keinginan kita belum juga Allah wujudkan, barangkali do’a kita terlalu tinggi sehingga Allah memberi kesempatan untuk memantaskan diri kembali^

Lahaulawalaquwataillabillah

Cinta Mati Itu, ADA


Berawal dari percakapan dalam sebuah kelas,,

A (pr single) : Ternyata sudah banyak juga yang menikah ya, ayo kakak yang senior kapan? Segeralah melamar😊

B (lk single) : Ah, dari pada ngelamar mending buka lamaran

Semua : *tertawa*

Bapak muda : Kalian perempuan itu carilah suami yang kaya. Belum tahu kan rasanya bayar cicilan, bayar TK anak?

C (lk single) : Percuma kaya, kalo pelit gimana?

Bapak muda : Ada caranya lah biar gak pelit

A : Aku tahu caranya, buat dia cinta mati, iya kan? Kalo sudah cinta mati pasti semua diberikan😊

Bapak muda : Cinta Mati???? Nanti kalian coba ya kalo sudah menikah, ada tidak cinta mati itu?

Ibu muda : hhaha,, adalah sedikit,, tapi gak mati-matian sihhh

…….

Saya yang sedang main Onet tetap fokus mendengarkan percakapan ini, meski tidak ikut berkomentar, namun sesekali tetap ikut tertawa.

Pikiran saya mulai terganggu. Cinta Mati? Ada tidak ya?
Kenapa bisa cinta?
Lalu mengapa cinta bisa hilang dengan pernikahan?
Benarkah? Masa?
Secara belum berpengalaman ya, jadi tidak bisa menyimpulkan.

Akhirnya saya putuskan untuk melakukan studi literatur.

Apa itu cinta? Mengapa seseorang bisa cinta?

Dari bukunya bu Dewi Nur Aisyah yang berjudul Awe-Inspiring Me, dijelaskan bagaimana cinta dapat hadir.

Cinta dapat dijelaskan secara ilmiah. Cinta tidak hadir begitu saja, kehadiran cinta dipengaruhi oleh adanya hormon-hormon cinta di dalam diri kita. Apa saja hormon-hormon cinta itu?
1. Phenyl Ethyl Amine (PEA), yaitu hormon yang bertanggung jawab akan perasaan euforia yang timbul ketika kamu melihat si dia. Tubuh menjadi sangat excited. Tapi dapat menurunkan nafsu makan.

2. Dopamin, yang membuat kita tergila-gila. Hormon ini memberikan efek membahagiakan, meningkatkan energi, membuat lebih semangat,tapi juga menurunkan nafsu makan.

3. Endortin, yang menjadikan dunia indah karena ada dia. Dapat memberikan rasa bahagia, kenyamanan, dan cinta.

4. Serotonin, menjadikan kita terobsesi sama dia. Penurunan hormon ini menyebabkan orang yang jatuh cinta stres, melamun, galau, sangat obsesif. Hal ini yang membuat ingin terus bersama dia, menelpon dan sms berulang-ulang.

5. Feromin, menyebabkan ketertarikan sama dia.

6. Oksitosin, menyebabkan tidak bisa sehari pun tanpa dia

7. Norepinephrine, yang menjadikan semangat untuk mengejar dia.

8. Vasopressin, hanya dia…dia…dia.

Ketika satu per satu hormon tersebut diproduksi oleh otak, maka diri kita mulai memasuki Tahap cinta, yaitu:

1. Naluri >estrogen + testosteron

2. Daya tarik > oksitosin + vasopressin

3. Ketertarikan > Norepinekrin + dopamin + serotonin

Lalu, apa yang menyebabkan tubuh terangsang untuk memproduksi hormon tersebut? Jawabannya adalah melalui indra. Bisa dari mata, telinga, hidung, kulit, yang ketika indra kita menangkap rangsangan dari lingkungan kemudian di bawa ke otak, peran otak kitalah yang memutuskan sesuatu ini sangat menarik atau biasa saja. Jika didefinisikan menarik oleh otak kita, maka otak akan memperoduksi hormon-hormon cinta.

Jadi sudah tahu kan bahwa cinta itu sebenarnya memiliki sebab dan dapat diupayakan.
Sehingga dapat kita kendalikan secara sadar, misalnya dengan menjaga pandangan, pendengaran, penglihatan. Atau bisa juga dengan cara mengkalibrasi hati. Buat standar tinggi tentang definisi cinta, misalnya kita akan jatuh cinta kepada seseorang yang telah berkomitmen dengan mengkitbah dan segera menikah. Jika definisi ini sudah melekat di hati dan otak kita, maka semua yang gombal bilang cinta, semua yang sok dekat memberi perhatian tidak akan terdefinisikan sebagai cinta. Ini akan menjadi tameng bagi diri kita, terutama bagi perempuan yang katanya mahkluk paling GR sedunia. Dan parahnya gampang patah hati lagi.

Setelah membahas singkat bagaimana cinta dapat hadir. Selanjutnya mengapa cinta bisa hilang?
Terhadap hormon-hormon cinta di atas, pernah dilakukan sebuah research oleh Researchers at National Autonomous University of Mexico. Penelitian itu mengungkapkan bahwa sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan, tapi karena kandungan kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu semakin berkurang dan lama-lama habis.
Apalagi bagi yang cinta tersebab sesuatu, mislanya karena cantik,maka dengan hilangnya kecantikan cinta pun ikut lenyap. Karena kaya, dengan jatuh miskin cinta pun akan luntur, dan sebab-sebab lainnya.

Lalu bagaimana cinta mati, yang sehidup hingga mati itu…?

Menurut saya, dari uraian bagaimana cinta hadir lalu ada sebab-sebab hilang, maka cara terbaik untuk mengekalkan cinta adalah dengan terlebih dahulu mencintai Sang Muaranya Cinta.
Ketika kita telah mencintai Allah maka dijamin cinta kita tidak ada expirednya, sebab kita bergantung dan menbutuhkan Allah disetiap waktu, sehingga tidak akan sanggup jauh dariNya. Sebab Allah Maha Sempurna, maka tidak akan pernah ada kekuranganNya yang dapat menjadikan kita kecewa.
Ketika kita sudah menempatkan cinta kepada Allah di atas segalanya, barulah kemudian kita membuka diri mencintai yang lainnya karena Allah. Jika kita mencintai sesuatu karena Allah, maka cinta itu tidak akan pernah pudar selama kita masih mencintaiNya.

Sebab, mencintai yang dicintai oleh yang tercinta adalah bagian dari mencinta yang dicinta.
Dalam hal ini ketika Allah mencintai seseorang, lalu kita mencintai seseorang itu karena Allah mencintainya, maka ketika kita menemukan hal-hal yang berpotensi menghadirkan rasa kecewa dari diri orang tersebut, kita masih dapat mencintainya bukan karena dia, namun karena Allah mencintainya.

Jadi, cinta mati itu ada,,!!! Yaitu ketika kita mencintai seseorang karena Allah mencintai seseorang itu.
Dijamin cinta jenis ini tidak akan pudar selama kita mencintai Sang Muaranya, dan karena keterbatasan kita maka tidak mungkin mampu sedetikpun kita lari dari cintanya Allah.

Mari sama-sama mencari cinta yang dicintai Allah, karena hanya cinta jenis ini ini dapat bertahan sehidup semati, bahkan sesurga setelah matinya. Aamiin

Teruntuk TUGAS


Ajari aku menjelmakan kata menjadi kerja nyata,,

Lalu merampungkan semuanya dalam waktu yang masih tersisa😆

Hikmah Keterbatasan


Kali ini menyoal *Kemodinamika Lingkungan*, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari tentang kimia transport (pergerakan bahan kimia atau zat kimia) di lingkungan, yang berhubungan dengan sifat fisika-kimia, keseimbangan di alam, komposisinya di dalam biota dan toksikologi dan epidemologi berdasarkan properti kimia dan fisika.

😤Saya tidak akan membahas materi ini secara detail apalagi lengkap dengan rumus-rumusnya. Hanya ingin mengambil hikmah atas ketetapan Allah terhadap manusia berdasarkan setitik pengetahuan tentang kemodinamika. Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa kemodinamika adalah ilmu yang mempelajari transport zat kimia, pada materi ini lebih dikhususkan lagi mempelajari transpor benda-benda yang sangat kecil dan tidak kasat mata. Misalnya penyebaran unsur-unsur kimia di udara, pergerakan partikel-partikel pada setiap benda, dan hal-hal kecil lain yang tidak dapat dilihat, disentuh, apalagi dirasakan pada kondisi normal.

Saya tertarik untuk berpikir soal partikel. Partikel adalah bagian yang sangat kecil penyusun sebuah benda. Partikel itu sifatnya selalu bergerak, kecepatannya mencapai 10^23, tidak terbayang kan seberapa cepatnya, untuk menyebut angka kecepatan hingga memiliki 23 nol saja kita tidak bisa. Bandingkan dengan kereta api yang hanya dengan keceptan  150km/jam saja ketika lewat kita sudah tidak dapat melihat bentuk yang sebenarnya, hanya terlihat seperti bayangan 2 dimensi. Partikel berkali-kali lebih tinggi dari pada itu kecepatannya.

Kembali lagi ke setiap benda yang memiliki partikel tadi. Jika saja Allah tidak membatasi penglihatan, pendengaran, indra perasa kita, mungkin untuk membuka mata saja kita sudah tidak sanggup. Bayangkan ketika kita dapat melihat partikel meja bergerak, meski meja adalah benda padat, ia tetap memiliki partikel yang bergerak, hanya saja pergerakannya terbatas dan teratur. Contoh lain ketika kita dapat melihat zat-zat kimia di udara, maka untuk berjalan saja kita susah, sebab sudah tidak ada lagi celah yang bisa kita lewati. Atau seperti tadi ketika saya baru selesai menggiling cabai dan tidak sengaja menyentuh wajah, terjadilah reaksi antara cabai dan kulit wajah, entah seperti apa jika setiap unsur yang bereaksi dapat terlihat mata. Belum lagi ketika kita dapat melihat bakteri, kuman, virus, dan lain-lain, kita tidak akan mampu lagi membuka mata dan bergerak.

Begitulah hikmah keterbatasan yang Allah berikan, untuk menyamankan kita dalam beraktivitas.

Apapun itu setiap yang Allah tetapkan pasti ada hikmahnya. Baik keberuntungan menurut pandangan manusia bahkan kemalangan dalam pandangan manusia. Akan selalu ada hikmahnya.

Dunia ini adalah negeri ujian,yang selamanya tidak akan pernah sempurna bagi seorangpun, maka penuhi ruang hatimu dengan iman dan berbaik sangka kepada Allah.
Semoga Allah ridho dengan hidupmu.

🙇


Ialah hujan,,
Maka terhadapnya menjaga kewarasan adalah wajib bagiku

Hujan yang tak tertebak kapan datangnya,,
Yang malu aku pintakan, namun setibanya tak mampu lagi aku hindarkan…

Taat Tanpa Tapi


image

^gambarnya dari google

🙎 : Mbak, nanti kesananya naik apa?
👩 : mmm aku tadi bawa motor?
🙎 : sendiri?
👩 : iya, sendiri
🙎 : aku ikut ya?

Ya Rabbi apa yang harus aku jawab? Izinkan aku tetap taat padaMu tanpa harus menyakiti.

*huhhh,, benar-benar berharap waktu berhenti berputar sejenak, agar aku dapat memikirkan jawaban yang tepat*

Mau jawab, *ma’af, kalo kamu bareng aku, ini pertama kalinya naik motor berdua sama laki-laki yang bukan tukang ojek & bukan pula keluarga* nggak deh, kalimatnya terlalu ambigu

Kalo dijawab, *ma’af, Allah melarang berkhalwat apalagi berdua di motor bersama nonmahram*
Kalimat ini juga terlalu ekstrim untuk pemula, apalagi baru kenal

Atau jawab gini deh, *eh iya aku lupa, tadi ada teman yang udah bilang duluan mau ikut bareng* ihhh keliatan banget pelitnya

Disaat bingung harus jawab apa, tetiba sang pangeran datang, eh bukan maksudnya sejenis penyelamat lah,,
Sambil berkata, *kamu ikut aku aja, aku bawa mobil*

Huhhf lega,, berasa habis ngangkut beban sebesar gunung uhud….  *lebay,, edisi remaja, jadi tulisannya agak centil😆

Cuma mau ngingatin diri sendiri,, *taat itu tanpa tapi*
Penilaian Allah diatas penilaian makhluk💪💪💪